Pernahkah kamu lagi asik-asiknya makan french fries, tetiba seluruh isinya habis tak tersisa? Kenapa sih kita susah banget buat menghindari makan makanan ‘sampah’ ini? Jawabannya, bukan hanya karena enak, tetapi karena ilmuwan merancang makanan ini secara ilmiah untuk memicu sistem di otak kita.
Perusahaan junk food tidak hanya ingin menjadikan produknya enak, melainkan juga adiktif. Mereka memastikan bahwa konsumen memaksimalkan intake atau jumlah konsumsi produk yang mereka buat. Di artikel ini, kita akan membahas rahasia ilmiah kenapa kita ketagihan makan junk food.
The Bliss Point

Kunci dari desain makanan adiktif adalah The Bliss Point atau yang biasa kita sebut titik kebahagiaan. Howard Moskowitz, seorang ahli psikofisika makanan, menciptakan istilah ini. Bliss point adalah titik kebahagiaan dalam formulasi makanan, yaitu kombinasi ideal antara gula, garam, dan lemak yang menciptakan rasa paling enak dan memuaskan, memicu pusat kenikmatan di otak, dan membuat orang ingin terus makan.
Gula dapat memicu pelepasan dopamine atau hormon kesenangan di otak. Ini dapat mendorong kita agar ingin makan terus dan mencari sensasi itu lagi. Sedangkan produsen menggunakan garam untuk meningkatkan rasa secara keseluruhan dan menyeimbangkan rasa. Terakhir, mereka menggunakan lemak untuk memberikan tekstur yang memuaskan dan membawa sinyal kenyang. Namun dalam junk food, mereka sengaja mengatur jumlahnya agar tidak memicu rasa kenyang sebelum kita menghabiskan seluruh porsi.
Produsen merancang makanan yang mengandung Bliss Point yang tinggi untuk memberikan kenikmatan maksimal tanpa memberikan sinyal kenyang yang kuat kepada otak. Mereka sengaja menyesuaikan rasio nutrisi agar tubuh tidak segera mengirim sinyal hormonal cukup. Ini membuat kita bisa terus makan jauh melampaui kebutuhan kalori harian kita.
Flavor Layering

Makanan yang adiktif memiliki kontras rasa dan tektur yang menarik. Sebagai contoh, kentang goreng, yang memiliki bagian luar yang krispi dan bagian dalam yang lembut. Atau coating cokelat yang keras mengikuti isian yang gooey. Kontras ini menjaga kita agar tidak cepat bosan dengan apa yang kita makan.
Vanishing Caloric Density adalah teknik yang produsen gunakan pada makanan yang meleleh di mulut, contohnya seperti keripik yang berongga. Ini karena makanan tersebut meleleh dengan cepat, sehingga otak menganggap makanan tersebut sebagai kalori yang rendah dan ringan. Secara tak sadar mendorong kita untuk makan dan makan lagi dengan cepat, karena kita tidak merasa telah mengonsumsi sesuatu yang substansial.
Warna-warna yang cerah dan aroma yang kuat dirancang untuk memicu ekspektasi rasa yang tinggi bahkan sebelum menyentuh lidah. Sebagai contoh, aroma keju cheddar yang menyengat dan warna kuningnya yang terang.
Dampak Pada Kesehatan dan Pola Pikir

Konsumsi yang berlebihan pada produk Bliss Point ini dapat menyebabkan otak menjadi terbiasa dengan lonjakan tinggi dopamine. Sehingga makanan alami dan sehat (seperti sayur dan buah) terasa hambar. Selain itu, konsumsi lemak jenuh, gula, dan garam yang berlebihan dapat menyebabkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.
Kecanduan yang dipicu oleh Bliss Point membuat kita seringkali merasa bersalah setelah makan, yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan kita dengan makanan.
Kesimpulan
Memahami bahwa ilmuwan merancang junk food secara ilmiah untuk adiktif adalah langkah pertama untuk kembali memegang kendali. Kunci untuk melawan Bliss Point bukanlah hanya kemauan keras, tetapi kesadaran. Dengan menjadi konsumen yang cerdas dan memprioritaskan makanan utuh (whole foods), kita dapat melatih kembali otak untuk menghargai rasa alami dan memutus siklus adiktif yang telah industri makanan rancang.






