Kalian sadar gak sih, bahwa setiap orang yang menonton konser saat ini hampir semuanya mengangkat ponsel, bukannya menonton lewat mata kepala sendiri, malahan menonton lewat layar kecil. Padahal, konser adalah pengalaman yang sangat berharga, dimana kita seharusnya terhubung dengan musik, artis, dan energi keramaian. Fenomena inilah yang disebut screen wall.
Lantas, mengapa kita begitu terobsesi merekam, bahkan sampai mengorbankan pengalaman langsung yang kita bayar mahal? Ternyata, jawabannya terletak pada kombinasi antara tekanan sosial, kecemasan memori, dan strategi otak kita dalam menghadapi momen emosional yang intens.
The Camera Impairment Effect

Ketika otak tahu bahwa suatu momen sedang direkam, ia cenderung tidak bekerja keras untuk memproses dan menyimpan detail peristiwa tersebut. Fenomena Ini disebut Offloading Memory. Kita secara tidak sadar mendelegasikan tugas mengingat ke ponsel, yang membuat kita kurang terlibat secara kognitif. Ironisnya, studi psikologi menunjukkan bahwa tindakan merekam justru dapat mengurangi akurasi memori kita terhadap momen yang sedang terjadi (The Camera Impairment Effect).
Intensitas emosional konser bisa memicu kecemasan, yakni berupa takut lupa lirik favorit, takut melewatkan interaksi tak terduga, atau takut tidak bisa membuktikan kehadiran kita. Merekam adalah mekanisme penanggulangan kecemasan ini. Ponsel menjadi perantara yang memberikan kontrol, sehingga kita merasa lega karena tahu momen tersebut aman tersimpan, yang memungkinkan kita untuk “santai” dan terus menonton meski melalui layar kecil.
Tekanan Sosial

Konser besar atau event eksklusif adalah social currency (mata uang sosial) yang berharga. Merekam dan mengunggahnya segera ke Instagram Story atau TikTok adalah cara untuk menukarkan kehadiran fisik menjadi validasi digital. Posting video konser adalah tentang mengirim sinyal identitas kepada jaringan sosial kita bahwa kita adalah bagian dari scene yang keren, bahwa kita mampu membeli tiket, dan bahwa kita ‘hidup’ sejalan dengan hype terkini.
Ketakutan terbesar adalah Fear of Missing Out (FOMO), bukan saat momen sedang terjadi, tetapi setelah itu. Bagaimana jika teman-teman menanyakan video lagu terbaik dan kamu tidak punya? Merekam adalah polis asuransi terhadap penyesalan di masa depan. Kita mengumpulkan ‘bukti’ untuk memastikan bahwa kita memiliki materi untuk throwback atau membanggakan diri di kemudian hari.
Seiring naiknya dominasi platform video pendek, platform tersebut secara implisit mendorong setiap penonton menjadi content creator. Mereka tidak lagi hanya mengonsumsi, tetapi mencari sudut pandang unik, momen dramatis, atau klip viral potensial yang dapat meningkatkan jumlah followers dan engagement mereka.
Keseimbangan Antara Live dan Record

Menghilangkan ponsel dari konser mungkin terdengar tidak realistis, tetapi kita bisa, lho, mengelola perilaku merekam agar tidak mengorbankan pengalaman. Bagaimana caranya?
1. Tentukan Batasan Waktu:
Putuskan hanya merekam lagu pertama dan lagu terakhir. Sisanya, simpan ponsel di saku. Berikan diri kamu izin untuk tidak menjadi videographer sepanjang malam.2. Fokus pada Pengalaman Sensorik:
Alih-alih melihat layar, fokuslah pada pengalaman sensorik: merasakan getaran bass, mencium bau asap panggung, dan mendengarkan suara langsung di telinga kamu. Hal ini akan memperkuat memori episodik yang lebih tahan lama.3. Rekam Keramaian, Bukan Panggung:
Ambil beberapa klip cepat yang menunjukkan suasana umum, respons keramaian, atau teman-temanmu, alih-alih mencoba merekam seluruh wajah artis yang kecil di kejauhan. Ini tetap memberikan ‘bukti’ kehadiran tanpa merusak seluruh pengalaman kamu.
Kesimpulan
Obsesi merekam konser adalah cerminan dari kecemasan memori dan kebutuhan validasi di era digital. Ponsel adalah alat yang kuat, tetapi ketika kita menggunakannya sebagai perantara pengalaman, ia justru menjauhkan kita dari realitas. Nilai sebuah konser terletak pada kehadiran yang autentik, bukan pada kualitas video yang kita upload. Nah, sudah tahu, kan? sekarang saatnya menantang diri untuk menikmati momen live seutuhnya.






